2020-06-30

Perspektif Petani Kolaboratif Kegiatan Kerjasama BPTP Kalsel-ACIAR Terhadap Kegiatan Usaha Tani Mereka Selama Pandemi Covid-19

BPTP KALIMATAN SELATAN
...

Pandemi covid-19 mempunyai dampak yang sangat luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyaraka. Demand dan supply barang dan jasa menurun drastic. Perekonomian terkontraksi sangat dalam bahkan menuju minus. Bagaimana dengan kegiatan peternak dilapangan? Sejauh mana pengaruhnya terhadap kegitan ekonomi petani? Berikut adalah ulasannya melalui laporan kegiatan wawancara yang dilakukan oleh field officer Ridhona Endriatina.

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada Kamis, 11 Juni 2020 di Kelompok Tani Budidaya, Desa Pulau Sari, saya melakukan kunjungan dan wawancara ke beberapa peternak mengenai perubahan kegiatan sehari-hari dalam usaha ternak sapi potong dan permasalahan yang dihadapi selama pendemi Covid-19. Berdasarkan perspektif mereka secara umum, tidak ada perubahan kegiatan sehari-hari dalam beternak sapi potong. Hanya saja permasalahan yang dihadapi adalah harga jual sapi menurun hingga sekitar 2% dan pemasaran cukup sulit terdampak adanya Covid-19 ini. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghambat semangat peternak untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi mereka. Purwanto (46 tahun), salah satu peternak kolaboratif yang aktif mengembangkan inovasi teknologi pakan fermentasi/silase tebon dan janggel jagung, pelepah sawit, rumput dan legum dengan menggunakan EM4 dan dedak padi sebagai pakan ternak sapi potong miliknya. Beliau sebelumnya juga mendapatkan bantuan bibit rumput Odot dan legume Indigofera dari BPTP Kalsel melalui kelompok. Menurut ketua kelompok tani Budidaya (Balot Satmadi), tantangan baru yang dihadapi peternak adalah bagaimana mereka masih bisa terus berinovasi di tengah pendemi Covid-19.

Tak jauh berbeda dengan petani/peternak di Kelompok Tani Bunga Mawar, Desa Kuringkit yang saya kunjungi pada Sabtu, 13 Juni 2020 lalu. Permasalahan yang dihadapi akibat Covid-19 ini adalah pemasaran hasil tani/ternak yang dibatasi untuk keluar masuk kabupaten. Hal ini berdampak pada menurunnya taraf hidup petani/peternak disana. Mariyati (48 tahun) menceritakan bahwa petani setempat mengalami kesulitan pemasaran padi untuk tanam kedua dan ketiga. Alhamdulilah, untuk hasil panen tanam kesatu ada ujungannya (untung). Selain itu, harga bahan pangan mulai naik. Meskipun demikian, masyarakat tetap membeli, karena sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Menurut ketua kelompok tani Bunga Mawar (Agus Rifani), keuntungan peternak dari menjual sapi mengalami penurunan yang mungkin biasanya mendapat Rp 100.000 menjadi Rp 20.000 selama pendemi Covid-19. Selain itu, tantangan baru yang dihadapi petani/peternak adalah masalah pemasaran bibit padi dan jual beli sapi sulit dikarenakan saat pendemi Covid-19 karena portal keluar masuk dijaga. Sementara pembeli potensial berasal dari luar kecamatan/desa. Jika datang dari zona merah dicek kelengkapan surat pengantar dsb.

Sub Sektor : Sapi
Komoditas : Peternakan
Teknologi yang Digunakan : PAKAN SAPI POTONG
http://kalsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=902:administrator&catid=65:topik-berita